Mindset Motivator pertama yang memberikan Seminar + "MINDSET" di 3 Transportasi dalam 1 hari, yakni di Pesawat udara, Bus dan Kapal pesiar dan sudah berpengalaman dalam memberikan training, baik dalam nuansa inhouse maupun outbound

 

 

" PENYESALAN TAK BERARTI "
Ir. Martinus Tjendana, M.Psi

Di negara tetangga kita, pernah ada suatu kisah yang sungguh nyata terjadi dan sangat memilukan hati. Hiduplah sebuah keluarga yang telah dikaruniai seorang puteri yang sangat manis dan telah berumur sekitar 1,5 tahun. Si ayah adalah seorang business man yang sangat sukses, namun sangat sibuk sehingga tak punya waktu lagi untuk keluarganya. Sementara si ibu juga sibuk dengan aktifitas organisasi dan jarang punya waktu buat si puteri. Jika hari sudah malam, ketika kedua orang tua yang sangat sibuk itu pulang maka mereka sering mendapati puteri tercinta sudah tertidur dengan ditemani pembantu rumah mereka.

Suatu hari si ayah pulang lebih awal dengan segala keletihan dan kepenatan yang ada. Proyek yang sudah lama ia garap bersama temannya gagal dan mereka mengalami kerugian.

Segera ia memarkirkan mobil di garasi rumah dan masuk ke dalam kamar untuk istirahat dan menenangkan dirinya. Namun karena dibarengi rasa kesal, ia tak dapat memejamkan matanya. Selalu terbayang akan kegagalan yang dihadapinya. Ia kemudian memutuskan untuk keluar rumah sembari segera berganti pakaian.

Namun ketika ia mau masuk ke dalam mobil, ia sangat terkejut melihat hampir seluruhnya badan mobilnya penuh dengan goresan dan guratan. Perasaan kesal dan marah akibat proyek yang gagal menyatu dan membuat darahnya mendidih. Dengan suara yang keras ia memanggil pembantu rumah sembari menanyakan siapa yang telah menggores mobilnya. Segera sang pembantu datang dengan menggendong puterinya. Terlihat muka pucat pembantu dan puterinya yang dengan menangis mengaku bahwa ia yang melakukannya. Emosi yang memuncak dan  tak tertahan terlampiaskan dengan memukul tangan mungil puterinya. Tangis yang memilukan pun pecah, namun emosi belum terluapkan.

Malam harinya si puteri demam tinggi dan segera dilarikan ke rumah sakit. Dokter meminta agar si puteri segera diopname untuk beberapa hari. Tangan yang dipukul semakin membengkak dan  membiru. 3 hari kemudian, dokter mengajak keluarga untuk diskusi dan menyarankan agar tangan puterinya harus diamputasi demi menyelamatkan nyawanya. Tersadar dari sesalnya, si ayah segera mendekap tubuh puterinya dan sembari minta maaf. Mulut kecil puterinya dengan lirih mengatakan ”Maafkan yah, Nini janji gak nakal dan gores mobil ayah lagi” Tangan nini jangan diambil yah”

Sering kita tak menyadari sikap buruk kita yang dapat saja berdampak buruk kepada orang lain dan bahkan kepada keluarga yang kita cintai. Namun karena emosi, sikap mau menang sendiri dan egois, kita selalu bertahan dan melakukan pembenaran. Demi orang yang kita cintai, mari kita segera merubah sikap. Jangan sampai Nasi menjadi bubur, sehingga penyesalan tak ada artinya lagi.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
     

 

Copyright © 2008-2017, SMART People Development™. All Right Reserved. Freewebhosting.
Any suggestions and comments, please mail to
smart_jakarta@yahoo.com