Mindset Motivator pertama yang memberikan Seminar + "MINDSET" di 3 Transportasi dalam 1 hari, yakni di Pesawat udara, Bus dan Kapal pesiar dan sudah berpengalaman dalam memberikan training, baik dalam nuansa inhouse maupun outbound

 

 
" INDAHNYA SALING BERSABAR "
Ir. Martinus Tjendana, M.Psi

Kota Metropolitan seperti Jakarta, Surabaya dan salah satunya kota tercinta kita ini yakni Medan tak seindah namanya yang besar. Kota yang besar pasti disertai dengan segala permasalahannya yang besar. Penduduk kota yang sangat sibuk dalam bisnis dan usaha mereka masing-masing seakan membuat kota itu tak pernah tidur. Malam pun seperti pagi hari layaknya. Aktivitas semakin padat dan dibutuhkan sarana atau fasilitas yang memadai dalam mengakomodasi itu semua. Pertumbuhan penduduk semakin meningkat, angkutan jalan dan kendaraan semakin banyak namun pertumbuhan jalan tetap sebegitu saja. Dan sudah pasti kita tahu, yang banyak sekarang dialami adalah macet berkepanjangan. Yang akhirnya berbuntut pada stress.

Di sebuah jalan protokol di Medan waktu itu, seorang bapak yang sedang mengendarai motor tiba-tiba disalib oleh sebuah angkot yang hampir saja membuatnya jatuh. Si bapak segera saja marah dan memaki si supir angkot dengan teriakan ”Hei monyet, kau pikir ini jalan bapakmu...” Mendengar teriakan itu si supir angkot juga balas teriak, kau juga monyet, jalan seenakmu di tengah jalan. Akhirnya mereka terlibat perdebatan sengit dan tak ada yang mau kalah, maklumlah kali ini ada 2 ekor monyet yang sedang saling berkelahi.

Di tempat lain, ada seorang pedagang bakso keliling yang gerobak baksonya hampir oleng karena terserempet motor yang sedang menyebrang jalan. Si pengemudi motor berteriak, ”Nyebrang aja gak becus, punya mata gak sih”. Si tukang bakso terdiam sejenak lalu di dalam hatinya dia menggerutu ”Dasar, mentang-mentang punya motor bisalah berlagak seperti itu.”
Memang perselisihan yang mengakibatkan perdebatan tak terjadi, namun ada peperangan dalam diri si tukang bakso dan si pengemudi motor.

Di satu kisah yang lain, seorang dosen baru saja pulang dari kampus tempatnya mengajar hampir menabrak seorang bapak yang sedang berjalan kaki. Buru-buru ia turun dari motornya dan segera minta maaf kepada si bapak. Si bapak pun segera menyambutnya dengan penuh bijaksana dan penuh sabar berpesan agar si dosen berhati-hati. Kali ini tak ada perselisihan, dengan penuh sabar itu semua bisa dihindari.

Ketiga cerita yang kita dengar tadi, memperlihatkan bagaimana kita harus bersikap dalam setiap hal yang menuntut kesabaran kita. Belajar mengelola emosi yang negatif disertai kesabaran yang mendalam. Akhirnya sikap sabar kita ini akan membawa kita kepada hidup yang lebih berkualitas, rasa lega di dalam hati, akrab dan penuh kekeluargaan, nyaman, bahagia, serta hidup bermakna tidak hanya di mata manusia, namun di mata Tuhan.

Sabar bukan berarti kalah dalam peperangan hidup. Menjadi insan manusia yang tidak mengumbar emosi, bersabar dan pemaaf ; justru sebaliknya menang dalam penuh kelimpahan, kebijaksanaan, menuju kesempurnaan hidup di dunia dan di akhirat.

 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
     

 

Copyright © 2008-2017, SMART People Development™. All Right Reserved. Freewebhosting.
Any suggestions and comments, please mail to
smart_jakarta@yahoo.com